salam dulu yaak..

Assalammualaikum!!

Selasa, 22 September 2015

Al-Quran sebagai wahyu Allah yanng diturunkan kepada seluruh manusia

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Al-Quran adalah pedoman hidup manusia. Al-Quran merupakan wahyu yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Sedangkan pengertian wahyu sendiri adalah kalamullah yang diturunkan kepada Nabi-Nya sesuai dengan kebutuhan. Wahyu atau kalamullah diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi-Nya melalui perantaraan Malaikat Jibril alaihissalam.
Al-Quran juga diturunkan secara mutawatir dan melalui berbagai cara dari Allah SWT. Dalam makalah ini kami akan memberikan pengertian wahyu oleh beberapa ulama dan  menjabarkan bagaimana cara wahyu Allah diturunkan.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian etimologis dan terminologis pendapat Muhammad Abduh tentang wahyu dan ilham ?
2.      Bagaimana fenomena wahyu dan kemungkinan terjadinya pandangan psikologi dan teknologi modern ?
3.      Bagaimana cara wahyu Allah turun kepada Malaikat ?
4.      Bagaimana cara wahyu Allah turun kepada Rasul ?
5.      Bagaimana penyampaian wahyu oleh Malaikat kepada Rasul ?

C.     Tujuan
            Mengetahui bagaimana pengertian wahyu dan ilham menurut pendapat Muhammad Abduh, serta mengetahui bagaimana cara-cara Wahyu di turunkan kepada Rasul.

.
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pendapat Etimologis dan Terminologis Wahyu dan  Ilham oeh Muhammad Abduh
Menurut syaikh Muhammad Abduh dalam bukunya Risalatu’t-Tauhid, setelah mengemukakan ta’arif wahyu menurut bahasa, mengatakan, “ Para ulama telah membuat ta’arif wahyu menurut syara’ begini : wahyu itu ialah pemberitahuan Allah Ta’ala kepada salah seorang Nabi-Nya tentang hukum agama dan sebangsanya. Kami sendiri memiliki ta’arif wahyu berdasarkan syarat kami, bahwa wahyu itu ialah pengetahuan yang diperoleh sesesorang dengan penuh keyakinan bahwa ia semata-mata dari sisi Allah, dengan perantara atau tanpa perantara ; yang pertama – dengan perantara – yaitu dengan suara nyata bagi pendengarnya , atau tanpa suara. Perbedaan wahyu dan ilham itu perasaan (wijdan) yang diyakini hati dan mendorong untuk mengikuti apa yang dicari dengan tidak terasa dari mana ia datang. Ilham itu menyerupai perasaan haus, lapar, sedih dan gembira.”
            Ta’arif ini mencangkup tiga macam wahyu yang tercantum dalam firman Allah :
*$tBurtb%x.AŽ|³u;Ï9br&çmyJÏk=s3リ!$#žwÎ)$·ômur÷rr&`ÏBÇ!#uurA>$pgÉo÷rr&Ÿ@ÅöãƒZwqßuzÓÇrqãsù¾ÏmÏRøŒÎ*Î/$tBâä!$t±o4¼çm¯RÎ);Í?tãÒOŠÅ6ymÇÎÊÈ
Artinya : “Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan Dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir[1] atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.” (QS. Asy Syuura ; 51)
Jadi arti wahyu disini ialah menjelmanya (hadirnya) makna di dalam kalbu ; biasa dikatakan dengan tiupan dalam hati ( ar-ru’u, al-khaladu, al-khathiru), dan perkataan dari belakang tabir, yaitu terdengarnya kalam (Firman) Allah dari tempat yang tidak bisa dilihat, seperti seruan yang di dengar Nabi Musa a.s dari belakang pohon kayu. Adapun macam wahyu yang ketiga ialah wahyu yang dibawa atau dilemparkan oleh malaikat pembawa wahyu dalam rupa seorang laki-laki, atau tidak berbentuk, tapi Rasulullah dapat mendengar wahyu itu daripada-nya atau dapat menerima wahyu itu langsung dalam hatinya.
Keterangan mengenai wahyu (sebelum dibedakan anatar wahyu dengan  ilham) mencangkup apa yang dinamakan oleh sementara orang dengan “wahyu’n-nafsiy”, yaitu ilham yang melimpah dari persediaan (potensi yang tersedia) jiwa yang luhur, dan sebahagian sarjana Barat telah menetapkan wahyu semacam itu bagi Nabi kita, Muhammad SAW., dan juga bagi yang lainnya. Mereka berkata bahwa Muhammad itu mustahil berkata bohong tentang apa yang diserukannya, berupa agama yang lurus, undang-undang yang adil dan peradaban yang tinggi. Dan kalangan kaum cendekiawan Barat yang tidak percaya akan alam gaib atau tidak percaya bisa bertemunya alam syahadah (nyata) dengan alam gaib, menggambarkan bahwa semua pengetahuan Muhammad, semua buah fikiran dan harapan serta cita-citanya melahirkan ilham yang tercurah dari akal batinnya atau dari jiwa rohaniahnya yang tersembunyi dan tinggi kepada khayalannya yang luhur, dan kepercayaannya itu memantul pada penglihatannya, maka ia melihat malaikat dalam keadaan berbentuk, dan mengahafal apa yang dikatakan malaikat kepadanya.
Jadi perbedaan antara kita dengan mereka itu tentang keadaan wahyu syar’i, wahyu yang berisi hukum kagamaan, ialah bahwa menurut kita ia berasal dari luar jiwa Nabi, yang turun kepada jiwa itu dari langit, sebagaimana kita yakini, bukan berasal dari dalam jiwa itu, yang melimpah dari padanya, sebagaimana anggapan mereka. Juga tentang adanya malaikat yang membwa turun wahyu dari sisi Allah kepada Nabi SAW.[2], sebagaimana firman Allah:
¼çm¯RÎ)urã@ƒÍ\tGs9Éb>utûüÏHs>»yèø9$#ÇÊÒËÈtAttRÏmÎ/ßyr9$#ßûüÏBF{$#ÇÊÒÌÈ4n?tãy7Î7ù=s%tbqä3tGÏ9z`ÏBtûïÍÉZßJø9$#ÇÊÒÍÈAb$|¡Î=Î/<cÎ1ttã&ûüÎ7BÇÊÒÎÈ
Artinya : “Dan Sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam,Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril),ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.”(QS. Asy Syu’araa’:192 s/d 195)
Merupakan perbedaan anatara kita dengan mereka yang menganggap malaikat sebagai khayalan belaka.
B.     Fenomena Wahyu dan Kemungkinan Terjadinya Pandanga Psikologi dan Teknologi Modern

1.      Menurut Pandangan Psikologi
Kalau dikaitkan antara psikologi dan Islam. Sangatlah bertolak belakang atau ada perbenturan nilai (pandangan hidup) dalam memahami dunia psikologi. Jika dilihat dari pemikiran barat dengan pandangannya kepada dunia psikologi. Serta pandangan Islam terhadap dunia psikologi. Dalam pandangan barat tentang psikologi, harus bersumber pada dua hal yaitu kegiatan empirik (observasi) dan logika (dapat dianalisis lewat sebuah penelitian). Hal itu yang dinamakan sekulerisme. Sedangkan pada pandangan Islam. Kajian psikologi harus berlandas pada tiga sumber yaitu, empirik (observasi), logika/eksperimen (dapat dianalisis lewa sebuah penelitian), dan tidak menyampingkan wahyu-wahyu dari Tuhan dan Rasulullah. Contoh yaitu pada pandangan psikologi barat yang mengatakan homoseksual adalah normal. Sedangkan pada pandangan Islam sendiri, homoseksual adalah abnormal.
Seperti yang diketahui bahwa Islam berumber dari Khalik, kemudian menurunkan wahyu kepada Rasulullah berupa Al-Qur’an dan Hadits, yang kemudian disebarkan kepada seluruh manusia di bumi. Sumber-sumber ilahi inilah yang akan menghasilkan way of life pada diri manusia, jika dipahami dan dilaksanakan. Psikologi Islam sebagai kajian fenomena dalam sisi Islam. Konsep dalam Islam memandang psikologi mencakup pembahasan mengenai fitrah, qalbu, ruh, dan nafs. Sebab, kajian-kajian seperti itulah yang mengarah pada bidang ke-ilmu-an psikologi.[3]
2.      Menurut Pandangan Teknologi
Pandangan AlQur’an tentang ilmu dan teknologi dapat diketahui prinsip-prinsipnya dari analisis wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad Saw. “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang paling pemurah, Yang mengajar ( manusia ) dengan perantaraan Kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak di ketahuinya”. (QS Al-’Alaq [96]: 1-5).
Surat Al-Alaq 1-5 merupakan dasar sains dan teknologi dalam Islam. Allah memerintahkan kita membaca, meneliti, mengkaji dan membahas dengan kemampan intelektual. Surat ini merangsang daya kreativitas untuk berinovasi, mengembangkan keimanan dengan rasio dan logika yang dimiliki manusia. Kewajiban membaca dan menulis (memperdalam sains dengan meneliti) menjadi interen Islam dan penguasaan, dan keberhasialan suatu penelitian atas restu Allah.[4]
Wahyu pertama itu tidak menjelaskan apa yang harus dibaca, karena Al-Quran menghendaki umatnya membaca apa saja selama bacaan tersebut bismi Rabbik, dalam arti bermanfaat untuk kemanusiaan. Iqra’ berarti bacalah, telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu, bacalah alam, tanda-tanda zaman, sejarah, maupun diri sendiri, yang tertulis maupun yang tidak. Artinya, objek perintah iqra’ mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkaunya.
Pengulangan perintah membaca dalam wahyu pertama ini bukan sekadar menunjukkan bahwa kecakapan membaca tidak akan diperoleh kecuali mengulang-ulang bacaan atau membaca hendaknya dilakukan sampai mencapai batas maksimal kemampuan. Tetapi hal itu untuk mengisyaratkan bahwa mengulang-ulang bacaan bismi Rabbik akan menghasilkan pengetahuan dan wawasan baru, walaupun yang dibaca masih itu-itu juga. Demikian pesan yang dikandung Iqra’ wa rabbukal akram (Bacalah dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah).
Selanjutnya, dari wahyu pertama Al-Quran diperoleh isyarat bahwa ada dua cara perolehan dan pengembangan ilmu, yaitu Allah mengajar dengan pena yang telah diketahui manusia lain sebelumnya, dan mengajar manusia (tanpa pena) yang belum diketahuinya. Cara pertama adalah mengajar dengan alat atau atas dasar usaha manusia. Cara kedua dengan mengajar tanpa alat dan tanpa usaha manusia. Walaupun berbeda, keduanya berasal dari satu sumber, yaitu Allah Swt. inilah yang disebut ilmu laduni.
Dalam ilmu pengetahuan kealaman atau sains natural, orang mengumpulkan pengetahuan itu dengan mengadakan pengamatan atau observasi, pengukuran atau pengumpulan data pada alam sekitar kita, baik yang hidup seperti manusia, binatang, dan tumbuhan, maupun yang tak bernyawa seperti bintang, matahari, gunung, lautan, dan benda-benda yang mengelilingi kita.[5] Secara lebih rinci pengamatan-pengamatan benda disekitar kita dapat penulis paparkan pada bagian hakikat ilmu pengetahuan. Dimana hakikat tersebut mempunyai keterpaduan antara sains dengan Al qur’an.

C.     Cara Wahyu Allah Turun Kepada Malaikat
Dalam Al-Qur’an disebutkan mengenai pembicaraan Allah kepada malaikat, seperti dalam firmannya yang terdapat dalam Al Qur’an surah Al Baqarah/2:30
Ayat tersebut menunjukkan pembicaraan Allah dengan malaikat pada zaman azzali, ketika Allah akan menciptakan manusia dan malaikat protes kepada Allah, kemudian terjadilah dialog antara Allah dan malaikat.Dari hal itu diketahui bahwa malaikat dapat mendengarkan pembicaraan Allah. Maka kesimpulan sementara menggatakan bahwa cara Allah menurunkan wahyu kepada malaikat adalah dengan berbicara dengan lafaz yang khusus kepada malaikat, yang prosesnya tidak dapat dijangkau oleh akal manusia.
Dalam Al Qur’an juga menjelaskan bahwa Al Qur’an berada di Lauh al-Mahfuz, sebagaimana firmannya dalam Al Qur’an surah Al Buruj/85:21-22. Hal itu diperkuat oleh hadits[6] yang mengatakan bahwa Al Qur’an diturunkan dilangit dunia dengan keadaan satu paket.
Dari ayat diatas , dapat ditarik pemahaman bahwa jibril membawa wahyu dari Lauh al Mahfuz ke Bait al Izzah yang berada dilangit dunia dalam keadaan satu paket, kemudian menurunkannya ke Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur. Ini berarti Jibril mengambil sendiri  wahyu dari Lauh al Mahfuz.
Maka Manna’ al-Khattan menyebutkan 3 pendapat mengenai cara Allah menyampaikan wahyu Al Qur’an kepada malaikat.
1. Malaikat Jibril mendengarkan wahyu dari Allah dengan lafaz yang ditentukan.
2. Malaikat Jibril menjaga wahyu tersebut dari Lauh al Mahfuz.
3. Malaikat Jibril hanya diberi pengetahuan tentang maknanya oleh Allah, sedang lafaznya dari jibril sendiri atau dari Nabi Muhammad SAW.[7]

D.    Cara Wahyu Allah Turun kepada Rasul
Mimpi yang benar di dalam tidur, sebagaimana dalam hadis, yakni ; Yahya bin Bukair memberitakan kepada kami, ia berkata dari al-Laiś, dari Uqail, dari Ibn Syihab, dari Urwah bin al-Zubayr, dari Asiyah Umm al-Mu’minīn, ia berkata : Sesunggungnya apa yang mula-mula terjadi bagi Rasulullah saw adalah mimpi yang benar di waktu tidur. Beliau tidaklah melihat mimpi kecuali mimpi itu datang bagaikan terangnya pagi hari. Dari hadits diatas, mimpi merupakan salah satu bentuk pewahyuan tanpa melalui perantara.
Kemudian dihembuskan ke dalam jiwanya perkataan yang dimaksudkan, sebagaimana yang dijelaskan dalam QS. al-Syura (42) ayat 52.
Allah membicarakan Nabi saw dari belakang hijab, baik dalam keadaan Nabi saw sadar (jaga), sebagaimana yang terjadi pada malam isrā’, ataupun dalam keadaan tidur

E.     Cara Penyampaian Wahyu oleh Malaikat kepada Rasul
Nabi Muhammad SAW dalam hal menerima wahyu mengalami bermacam-macam cara dan keadaan, diantaranya
1.      Malaikat memasukkan wahyu itu kedalam hatinya.
Dalam hal ini Rasulullah tidak melihat sesuatu apapun, hanya beliau merasa bahwa hal itu sudah berada saja di dalam kalbunya. Mengenai hal itu Nabi  mengatakan: “Ruhul qudus mewahyukan kedalam kalbuku”.(surah As Syuara ayat 51).
2.      Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi berupa seorang laki-laki yang mengucapkan kata-kata kepadanya sehingga beliau mengetahui dan hafal benar akan kata-kata itu.
3.      Wahyu datang kepada Nabi seperti gemerincingnya lonceng.
Cara inilah yang amat berat dirasakan oleh Nabi. Kadang-kadang pada keningnya berpancaran keringat, meskipun turunya wahyu itu di musim dingin yang sangat. Kadang-kadang unta beliau berhenti dan duduk karena merasa amat berat, bila wahyu itu turun ketika beliau sedang mengendarai unta. Diriwayatkan olrh Zaid bin Tsabit:” Aku adalah penulis wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah. Aku lihat Rasulullah ketika turunnya wahyu itu seakan-akan diserang oleh demam yang keras dan keringatnya bercucuran seperti permata.  Kemudian setelah selesai turunnya wahyu, barulah beliau kembali seperti biasa”.
4.      Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi, tidak berupa seorang laki-laki tapi benar-benar seperti rupanya yang asli.
Hal ini tersebut dalam Al Qur’an surah An Najm ayat 13 dan 14.


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan

Al-Quran sebagai wahyu Allah yang diturunkan dengan cara dan penyampaian yang berbeda tapi memiliki maksud dan tujuan yang sama, yaitu sebagai pedoman untuk menjalani kehidupan manusia serta mempersiapakan kehidupan di akhirat.

B.     Saran

Apabila terdapat kesalahan pemahaman atau isi dan tata cara penulisan dalam makalah yang telah kami buat, kami mengharap saran saudara agar dapat menjadi lebih baik lagi. Kebenaran sesungguhnya hanya datang dari Allah, lalu kesalahan itu jelas datangnya dari manusia sendiri.



[1]  “Di belakang tabir “artinya ialah seorang dapat mendengar kalam Ilahi akan tetapi dia tidak dapat melihat-Nya , seperti yang terjadi pada iri diri Nabi Musa. Al-Quran dan Terjemahannya, Depag RI. (Pent.)
[2] Ridla Muhammad Rasyi,.Wahyu Ilahi Kepada Muhammad,PT Dunia Pustaka Jaya,Jakarta Pusat,1983,halm.89.

[3] ramdhaniqashai.wordpress.com/2013/07/24/psikologi-islam-dalam-pandangan-malik-badri yang bersumber dari Bukunya Malik Badri dengan judul “Dilema Psikolog Muslim”

[4] chantryintelex.blogspot.com/2014/05/ilmu-pengetahuan-dalam-perspektif-al.htmldari Hasan Basri Jumin, Sains dan Teknologi dalam Islam Tinjauan Genetis dan Ekologis, (Jakarta : PT Rajagrafindo Persada, 2012), hlm. 11-12.

[5] chantryintelex.blogspot.com/2014/05/ilmu-pengetahuan-dalam-perspektif-al.htmldariA. Baiquni, op.cit., hlm. 1.

6Al-Baihaqi, Dalail al-Nabuwah,Juz 8(Mauqi’u Al-Hadits:Dalam software Maktabah Syamilah,2005),halm.207.
[7]Khattan,Mabahits Fi Ulum,halm.35.